LAPORAN PRAKTIKUM
“KENAIKAN TITIK DIDIH DAN PENURUNAN TITIK BEKU
UNTUK
Disusun oleh :
Nama : Silvia Dwi Saputri
Kelas : XII IPA 3
SMA NEGERI 1 WIROSARI
Tahun Pelajaran
2014 / 2015
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Landasan
Teori
Titik beku adalah suhu
pada pelarut tertentu di mana terjadi perubahan wujud zat cair ke padat. Pada
tekanan 1 atm, air membeku pada suhu 0°C karena pada suhu itu tekanan uap air
sama dengan tekanan uap es. Selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku
larutan disebut penurunan titik beku (Δ Tf = freezing point depression). Pada
percobaan ini ditunjukkan bahwa penurunan titik beku tidak bergantung pada
jenis zat terlarut, tetapi hanya pada konsentrasi partikel dalam larutan.O`leh
karena itu, penurunan titik beku tergolong sifat koligatif. (id.answer.yahoo.com)
Penurunan titik beku adalah selisih
antara titik beku pelarut dan titik beku larutan dimana titik beku larutan
lebih rendah dari titik beku pelarut.Titik beku pelarut murni adalah 0ºC dengan
adanya zat terlarut misalnya saja gula yang ditambahkan ke dalam air maka titik
beku larutan ini tidak akan sama dengan 0ºC melainkan akan menjadi lebih rendah
di bawah 0oC itulah penyebab terjadinya penurunan titik beku yaitu
oleh masuknya suatu zat terlarut atau dengan kata lain cairan tersebut menjadi
tidak murni, maka akibatnya titik bekunya berubah (nilai titik beku akan
berkurang). Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak tergantung
pada macamnya zat terlarut tetapi semata-mata hanya ditentukan oleh banyaknya
zat terlarut (konsentrasi zat terlarut).
Apabila suatu pelarut
ditambah dengan sedikit zat terlarut, maka akan didapat suatu larutan yang
mengalami:
1.
Penurunan tekanan uap jenuh
2.
Kenaikan titik didih
3.
Penurunan titik beku
4. Tekanan
osmosis
Banyaknya partikel dalam
larutan ditentukan oleh konsentrasi larutan dan sifat Larutan itu sendiri.
Jumlah partikel dalam larutan non elektrolit tidak sama dengan jumlah partikel
dalam larutan elektrolit, walaupun konsentrasi keduanya sama. Hal ini
dikarenakan larutan elektrolit terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan
non elektrolit tidak terurai menjadi ion-ion.Dengan demikian sifat koligatif
larutan dibedakan atas sifat koligatif larutan non elektrolit dan sifat
koligatif larutan elektrolit.
Adanya partikel zat
terlarut yang tidak mudah menguap dalam larutan dapat mengurangi kemampuan zat
pelarut untuk menguap, sehingga tekanan uap larutan lebih rendah daripada
tekanan uap pelarut murni. Adanya partikel zat terlarut tersebut juga akan
mengakibatkan kanaikan titik didih dan penurunan titik beku larutan. Menurut
hokum Roult, besarnya penurunan tekanan uap larutan, kenaikan titik didih, dan
penurunan titik beku larutan yang mengandung zat terlarut tidak mudah menguap
dan tidak mengalami disosiasi (larutan non elektrolit), sebanding dengan
banyaknya partikel zat terlarut. Besarnya kenaikan titik didih larutan 1 molal
disebut kenaikan titik didih molal, Kb. Sedangkan besarnya penurunan titik beku
larutan 1 molal disebut penurunan titik beku molal, Kf. Untuk larutan encer
berlaku:
ΔTb = m x
Kb
ΔTf = m x Kf
Dengan :
ΔTb = Kenaikan titik didih larutan
ΔTf =
Penurunan titik beku larutan
Kb =
kanaikan titik didih molal
Kf =
penurunan titik beku molal
M =
Molalitas larutan
Besarnya molalitas larutan
yang sejenis sebanding dengan massa zat terlarut dan berbanding dengan massa
molekul zat terlarut. Jika massa zat terlarut dan massa zat pelarut diketahui,
maka massa molekul zat terlarut dapat ditentukan berdasarkan sifat koligatif
suatu larutan.
Untuk larutan yang mengandung zat
terlarut tidak mudah menguap dan dapat mengalami disosiasi (larutan
elektrolit), besarnya penurunan tekanan uap larutan, kenaikan titik didih, dan
penurunan titik beku larutan, dipengaruhi oleh derajad disosiasi larutan.
Apabila sebuah larutan mempunyai tekanan uap yang tinggi pada suhu tertentu,
maka molekul-molekul yang berada dalam larutan tersebut mudah untuk melepaskan
diri dari permukaan larutan. Atau dapat dikatakan pada suhu yang sama sebuah
larutan mempunyai tekanan uap yang rendah, maka molekul-molekul dalam larutan
tersebut tidak dapat dengan mudah melepaskan diri dari larutan. Jadi larutan
dengan tekanan uap yang lebih tinggi pada suhu tertentu akan memiliki titik
didih yang lebih rendah.
Titik didih adalah suhu (temperatur) dimana tekanan uap sebuah zat cair
sama dengan tekanan external yang dialami oleh cairan. Sebuah cairan di dalam
vacuum akan memiliki titik didih yang rendah dibandingkan jika cairan itu
berada di dalam tekanan atmosphere. Cairan yang berada di dalam tekanan tinggi
akan memiliki titik didih lebih tinggi jika dibandingkan dari titik didihnya di
dalam tekanan atmosphere.
Titik didih normal (juga disebut titik didih atmospheris) dari sebuah
cairan merupakan kasus istimewa dimana tekanan uap cairan sama dengan tekanan
atmospher di permukaan laut, satu atmosphere. Pada suhu ini, tekanan uap cairan
bisa mengatasi tekanan atmospher dan membentuk gelembung di dalam massa cair.
Pada saat ini (per 1982) Standar Titik Didih yang ditetapkan oleh IUPAC adalah
suhu dimana pendidihan terjadi pada tekanan 1 bar. Pada tekanan dan temperatur udara standar(76 cmHg, 25 °C) titik didih
air sebesar 100 °C
B.
Rumusan
Masalah Praktikum
Sesuai
dengan uraian diatas, permasalahan yang akan diungkapkan dalam praktikum ini
sebagai berikut.
1. Apakah titik
beku semua larutan sama?
2. Apakah titik
didih semua larutan sama?
C.
Tujuan
Praktikum
Mempelajari kenaikan titik didih dan
penurunan titik beku untuk larutan elektrolit kuat, elektrolit lemah, dan
non-elektrolit.
D.
Manfaat
Praktikum
Manfaat dari praktikum ini antara lain dapat mengetahui
1. Dapat
mengetahui pengaruh zat terlarut terhadap titik beku
2. Dapat
mengetahui pengaruh zat terlarut terhadap titik didih
3. Dapat
mengetahui titik beku dan titik didih suatu larutan
BAB II
ISI
A.
Waktu dan
Tempat Praktikum
Penulis
melaksanakan praktikum pengaruh titik beku dan titik didih dilaboratorium kimia
SMAN 1 Wirosari pada :
Hari : Selasa
Tanggal : 24 September 2014
Waktu : 11.00 – 11.50 WIB
B.
Langkah
Kerja Praktikum
1.
Alat
· 2 gelas kimia sesuai ukuran
· 2 buah tabung reaksi
· Pengaduk
· 2 buah termometer
· Pemanas spirtus
· Kaki tiga
·
Pipet
·
Korek api
·
Wadah baskom kecil
2.
Bahan
· Larutan C6H12O6
·
Es batu
·
Garam
3.
Cara Kerja
1) Menaruh es di dalam wadah lalu menambahkan garam yang sebanyak-banyaknya
2) Menimbang massa larutan
sebanyak 4,5 gram pada gelas kimia
3) Menambahkan air sebanyak 50 ml pada gelas kimia yang berisi larutan C6H12O6
4) Setelah larutan jadi,
mengambil 20 tetes larutan dengan pipet, lalu memasukkan pad tabung reaksi.
5) Memasukkan larutan yang
sudah berada dalam tabung reaksi dalam wadah yang sudah berisi dengan es dan
garam bersamaan dengan tabung reaksi yang berisi air dengan jumlah yang sama.
6) Meletakkan sisa larutan yang berada dalam gelas
kimia diatas kaki tiga yang dibawahnya telah ada pemanas spirtus.
7) Menunggu sampai larutan mendidih dan membeku.
8) Mengukur suhu larutan yang sudah mendidih dan
membeku dengan termometer.
BAB III
HASIL DAN
PEMBAHASAN
A. Hasil
Pengukuran Titik Beku
No
|
Zat Terlarut
|
Konsentrasi
|
Titik Beku
|
1
|
C6H12O6
|
0,5 M
|
Masih cair
Meskipun sudah dalam suhu -8o
|
2
|
Air
|
Masih cair
|
|
B.
Hasil Pengukuran Titik Didih
No
|
Zat Terlarut
|
Konsentrasi
|
Titik Didih
|
1
|
C6H12O6
|
0,5 M
|
94o
|
2
|
Air
|
95o
|
C. Pembahasan
Penambahan garam disini merupakan
salah satu penerapan dari sifat koligatif larutan. Garam berfungsi sebagai zat
yang menurunkan titik beku es batu sehingga es batu tidak cepat mencair, karena
apabila tidak ada penambahan garam pada es batu, suhu didalam es batu akan
lebih tinggi dari 0ºC pada saat es berubah menjadi liquid. Pada percobaan ini
kita mengetahui adanya partikel zat terlarut yang tidak mudah menguap sehingga
tekanan uap larutan lebih rendah daripada tekanan uap pelarut murni.
Perbedaan pengukuran titik beku
menurut teori dan berdasarkan pengamatan sendiri kemungkinan disebabkan oleh
proses pembekuan masing-masing larutan tidak sama, sehingga dalam pengukuran
titik beku ini tidak diperoleh data yang akurat. Selain itu, kekurang
telitian dalam menimbang bahan, membersihkan alat kerja, lalu kemungkinan
thermometer yang digunakan belum dalam keadaan yang stabil, dan ketika mengukur
suhu larutan besar kemungkinan terjadi penambahan suhu dari dimana ketika
tabung reaksi dikeluarkan dari es lalu terkena suhu luar atau suhu tangan kita
sendiri serta terjadi kekurang telitian dalam pembacaan skala thermometer.
Kemungkinan lainnya adalah es batu
yang digunakan telah mencair, sehingga memperlambat proses pembekuan larutan.
Dari table diatas diketahui bahwa titik didih larutan
dan titik beku larutan berbeda-beda baik larutan elekrolit kuat, elektrolit
lemah dan non-elektrolit. Seperti titik didih yaitu C6H12O6
( 94oC) dan air ( 95oC). Mengenai titik beku, dalam praktikum ini kami masih mengalami
kegagalan. Mungkin karena hal-hal yang telah disebutkan diatas.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Semakin banyak waktu yang diberikan
maka semakin rendah titik beku yang dihasilkan. Dari penelitian yang kami telah
lakukan, kami dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
Penurunan titik beku dan kenaikan titik didih tidak
tergantung pada komposisi kimia dari zat tersebut tetapi tergantung pada jumlah
partikel zat terlarut di dalam larutan, kemolalan larutan, massa zat terlarut
dan massa pelarutnya.
Kenaikan
titik didih dan penurunan titik beku larutan elektrolit lebih besar dari
larutan nonelektrolit disebabkan adanya factor Van’t Hoff.
Perbedaan hasil pengukuran menurut teori dengan
pengamatan langsung disebabkan oleh ketidaktelitian dalam mengamati skala
thermometer serta pengaruh suhu luar.
Garam dapur berfungsi sebagai zat
yang menurunkan titik beku es batu sehingga es batu tidak akan membeku pada
suhu 0ºC, sehingga ketika sebuah tabung reaksi diletakkan didalam gelas kimia,
akan terbentuk sebuah sistem antara larutan es batu yang suhunya 0ºC dengan
larutan uji yang ada didalam tabung reaksi.
B. Saran
Untuk
penelitian kedepannya, kami menyarankan agar :
·
Membersihkan dahulu alat-alat untuk melakukan
praktikum, agar saat pengambilan data untuk laporan lebih akurat dan tepat.
·
Harus teliti dalam mengambil data, menimbang bahan
serta membaca dalam thermometer.